Skena kompetitif Dota 2 kembali memanas setelah berakhirnya rangkaian turnamen Dota Pro Circuit (DPC) musim 2025/2026. Salah satu sorotan terbesar datang dari tim-tim asal China, yang performanya dinilai menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menjelang turnamen paling bergengsi, The International 2026 (TI11), para analis dan penggemar menilai tim-tim dari Negeri Tirai Bambu perlu melakukan evaluasi serius jika ingin kembali mendominasi panggung internasional.
Dominasi Masa Lalu yang Kini Memudar
China selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan terbesar di Dota 2. Tim legendaris seperti Invictus Gaming, Newbee, LGD Gaming, dan Vici Gaming pernah mengangkat Aegis atau setidaknya menjadi finalis The International. Bahkan, periode 2014–2018 sering disebut sebagai “era emas” Dota 2 China karena tim-tim mereka selalu masuk grand final.
Namun, beberapa tahun terakhir, dominasi itu mulai luntur. TI10 dan TI11 memperlihatkan bagaimana tim-tim Eropa seperti Team Spirit, Gaimin Gladiators, dan OG mampu mendominasi. Sementara tim China kerap gugur di babak awal atau hanya menempati posisi 5–6 besar.
Musim 2025 juga memperlihatkan tren serupa. LGD Gaming gagal lolos ke grand final di dua Major terakhir, sementara Xtreme Gaming yang digadang-gadang akan menjadi harapan baru malah tampil tidak konsisten.
Baca Juga : Live Streaming Menjadi Hobi Gamers Menghasilkan Cuan
Faktor Penyebab Penurunan Performa
Para analis menyebut ada beberapa faktor yang membuat performa tim-tim China menurun:
-
Kurangnya Regenerasi Pemain
Banyak tim masih mengandalkan pemain veteran seperti Ame, Somnus, atau Faith_bian. Sementara itu, talenta muda dari server China belum banyak diberi kesempatan untuk tampil di panggung besar. -
Meta dan Adaptasi Lambat
Meta Dota 2 terus berubah dengan update patch yang cepat. Tim-tim Eropa dan Asia Tenggara dinilai lebih cepat beradaptasi, sementara tim China cenderung konservatif dengan draft mereka. -
Persaingan Internal yang Melemah
DPC China region tidak lagi sekompetitif dulu. Banyak tim tier 2 bubar atau pindah ke region lain. Hal ini membuat scrim (latihan sparing) menjadi kurang berkualitas. -
Tekanan Mental
TI selalu membawa beban mental yang berat. Tim China sering kali menjadi favorit juara, sehingga ekspektasi fans justru membuat mereka tampil kaku di panggung utama.
Peluang di The International 2026
Meski menghadapi tantangan, peluang tim-tim China untuk bangkit masih terbuka lebar. The International 2026 akan digelar di Seattle, Amerika Serikat, yang membawa atmosfer nostalgia karena TI pertama kali lahir di sana. Banyak yang percaya bahwa tim China bisa memanfaatkan momen ini untuk “comeback story”.
Beberapa tim seperti Azure Ray, Xtreme Gaming, dan LGD Gaming mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di turnamen terakhir. Azure Ray bahkan berhasil mengalahkan beberapa tim top Eropa di DreamLeague Season 25, meskipun harus puas dengan peringkat 4.
Langkah yang Perlu Dilakukan
Para pengamat Dota 2 menyarankan beberapa langkah yang bisa ditempuh tim-tim China untuk memperbaiki performa mereka:
-
Regenerasi Roster
Memberi kesempatan kepada pemain muda berbakat dari rank leaderboard tinggi untuk bergabung. Banyak pemain muda memiliki mechanical skill tinggi dan pemahaman meta baru. -
Perkuat Analisis Draft
Membawa analis atau coach dari luar region dapat memberi perspektif baru terhadap strategi. Tim seperti Team Spirit sukses dengan membawa coach yang fokus pada inovasi draft. -
Scrim dengan Tim Internasional
Melakukan latihan lintas region agar bisa memahami gaya bermain lawan. Hal ini sudah dilakukan oleh beberapa tim SEA yang kini mulai bersinar di turnamen internasional. -
Mental Training
Melibatkan psikolog olahraga atau mental coach agar pemain bisa tampil lebih percaya diri di panggung besar.
Suara dari Komunitas
Di media sosial, diskusi tentang “kebangkitan Dota 2 China” menjadi topik hangat. Banyak fans berharap tim kesayangan mereka kembali tampil seperti era kejayaan 2016–2018.
“Kalau LGD bisa menemukan form terbaiknya lagi, mereka pasti bisa tembus grand final TI,” tulis seorang fans di forum Reddit Dota 2.
Namun ada juga yang pesimis. “Region China sudah mulai tertinggal. Meta sekarang lebih cepat, lebih chaos. Mereka harus benar-benar ubah mindset,” ujar seorang analis di siaran langsung Beyond The Summit.
Baca Juga : Delta Force FPS Terbaru Dengan Kompetitif Tinggi
Persaingan Ketat di TI 2026
Persaingan di TI 2026 diprediksi akan sangat sengit. Tim-tim seperti Team Spirit, Gaimin Gladiators, Tundra Esports, dan Talon Esports tampil konsisten sepanjang tahun. Selain itu, region Amerika Utara juga mulai bangkit dengan tim-tim baru seperti Shopify Rebellion yang semakin matang.
Artinya, tim China tidak hanya harus kembali ke performa terbaik, tetapi juga membawa kejutan jika ingin mengangkat Aegis. Draft yang berani, rotasi agresif, dan inovasi hero pool akan menjadi kunci keberhasilan.
Kesimpulan
Tim-tim China menghadapi tantangan besar menjelang The International 2026, tetapi peluang untuk bangkit tetap ada. Dengan regenerasi roster, adaptasi meta yang lebih cepat, dan dukungan komunitas, mereka masih bisa menjadi kekuatan yang menakutkan.
Bagi penggemar Dota 2, kebangkitan tim China akan membuat kompetisi semakin seru. Apakah LGD Gaming atau Xtreme Gaming akan kembali mendominasi? Atau justru muncul tim baru yang menjadi kuda hitam dari region China? Semua mata akan tertuju pada TI 2026 di Seattle.
Satu hal yang pasti: jika tim-tim China ingin merebut kembali kejayaan, inilah saatnya untuk berbenah. The International hanya datang setahun sekali, dan kesempatan untuk mengangkat Aegis tidak boleh disia-siakan.







Tinggalkan Balasan